Mari Berbagi walaupun hanya sekedar Informasi

Berbagi informasi tentang segala hal positif

Perbedaan Budaya

with 3 comments

Empat bulan sudah saya bekerja untuk meraih gelar doktor di jerman. Banyak sekali perbedaan budaya yang saya rasakan sebagai pengalaman yang baru. saya mencoba untuk menulisnya agar pengalaman dan kenangan itu tak terlupakan. Sering kali terpikir, kenapa Jerman begitu maju sedangkan indonesia tertatih-tatih. Apa karena otak kami memang lebih kecil dibandingkan mereka. Mereka secara postur lebih besar mungkin otaknya juga lebih besar:). Mungkin terlalu naif untuk mengaitkan volume otak karena buktinya banyak anak-anak pinter dari Indonesia memenangkan olimpiade bidang sains. Akan tetapi mungkinkah semua anak-anak cerdas itu akan menjadi seorang leader di bidnagnya dengan ide-ide kreatif yang bermanfaat. Perilaku dan sikap mental sebagai akibat dari gabungan pendidikan formal dan tempaan budaya tempat si anak menjalani kehidupan akan menentukan keberhasilan anak tersebut.

Mungkin sedikit catatan singkat
Saya melihat perbedaan budaya barat dengan budaya indonesia pada umumnya. Sopir bus saja disini sangat disiplin, apalagi lainnya. Sopir disini kalo kuning akan bereaksi menginjak rem untuk mengurangi laju kecepatan mobilnya. Perbedaan mencolok dengan kita yang mengartikan lampu kuning sebagai pertanda menginjak gas kuat-kuat. Pernah suatu kali saya melihat sopir trem akan menelpon bagian koordinatornya kalo ada rambu yang tidak yakin bener apa salahseperti tanda merah yang lama sekali dikarenakan ada kerusakan sensor. Untuk menjalankan tremnya dia menyempatkan untuk menelpon memastikan benar tidaknya rambu itu. rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya dan keselamatan nyawa orang lain.

Di lingkungan kerja maupun sekolah juga begitu. Perbedaan budaya kerja antara Jerman dan Indonesia terlihat
Orang sini jarang sekali mengobrol saat kerja. Saya kebetulan seruangan dengan temen asli jerman. Kiita hanya bertegur sapa pas datang dan pulang saja.Dalam ruangan yang mejanya berhadapan asyik masing-masing dengan aktifitasnya. Kami biasa bercerita sepuas-puasnya waktu makan maupun waktu istirahat. Yang perlu dicatat disini, orang jerman sangat fokus dengan pekerjaannya. Mereka benar-benar berkonsentrasi terhadap apa yang sedang dikerjakan. Mungkin karena kebiasaan individualis sehingga tidak peduli terhadap urusan orang lain dan tidak perlu terlaluy banyak yang dipikirkan kecuali apa yang sedang dikerjakan.

Orang sini mengisi liburan akhir pekan dengan pesta dan main-main sepuas-puasnya
hari kerja mereka benar-benar sibuk dengan aktifitasnya. Kebudayaan berpesta memang tidak perlu kita contoh. Akan tetapi efektivitas pengelolaan waktu yang disiplin mempengaruhi kualitas kerja. Jadi pada waktu hari kerja asyik dengan pekerjaanya. Pada waktu liburan saatnya bersama keluarga dan sosialisasi di masyarakat.

Kebudayaan kita juga banyak keunggulannya. Kita menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun. Sebagai contoh orang barat dengan tidak ada rasa malu mempertontonkan adegan berciuman bibir di depan umum. Mereka juga terbiasa berjemur hampir tanpa berbusana. Memang hal itu sudah menjadi budaya mereka sehingga akan menjadi hal yang wajar. Atau mungkin karena kesempatan menikmati mandi matahari hanya sekitar empat bulan saja di musim panas itupun yang benar-benar panas mungkin hanya dalam hitungan puluhan hari.
Kebudayaan dan kebiasaan memang timbul dari suatu proses yang lama dan dipengaruhi juga oleh kondisi alam sekitar.

Masih banyak lagi perbedaan budaya yang saya rasakan. Perbedaan antar budaya yang memberikan manfaat bagaimana seharusnya kita bersikap. Pengaruh antar budaya memang tidak bisa dihindari lagi dengan batasan jarak dan waktu yang sekarang semakin kabur. Kita tidak perlu mencontoh budaya barat yang kurang baik dan tidak bermanfaat. Mencontoh etos kerja dan kedisiplinan kerja mereka adalah sangat baik. Berpakaian seperti mereka karena ingin di bilang modern adalah suatu hal yang tidak tepat. Kita juga mempunyai kebudayaan sendiri yang luhur.

Semoga saja bangsa indoensia akan melangkah maju.

Written by dhidikp

February 11, 2009 at 7:35 pm

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. gimana mo maju Dhik…, kayaknya kok tambah primitif. Tu sekarang lihat lagi heboh dukun cilik. Mereka lbh percaya perdukunan daripada dokter, lbh suka yg berbau mistik drpd yg ilmiah… Btw, ya smoga….

    meilana

    February 19, 2009 at 6:33 am

  2. Ya tugas kita bersama untuk saling mengingatkan Tadz…apa yg salah ya dengan pendidikan di Indonesia..atau memang sudah budayanya…budaya juga bisa diubah mulai dari lingkup yang kecil

    dhidikp

    February 22, 2009 at 10:11 am

  3. Karena orang barat punya kesadaran hukum n kedispilinan yang tinggi. Sementara mental orang Ind lebih takut sama aparat. Misalnya di perempatan, lampu merah, jalanan sepi, gak ada polisi orang akan cenderung ngalnggar. Lampu kuning kalo kita nginjak rem malah bisa-bisa ditabrak dari belakang😦

    Chacha

    February 24, 2009 at 3:43 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: