Mari Berbagi walaupun hanya sekedar Informasi

Berbagi informasi tentang segala hal positif

Riset: Istri Kedua Seorang Dosen

with 4 comments

Tulisan ini membahas tentang pentingnya riset bagi seorang dosen.
Belasan tahun berada di kampus sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen membuat saya menjalani kuliah seperti sebuah rutinitas. Sesaat memasuki ruang kuliah Nachrichtentechnik Hoersaal untuk mengikuti kuliah Mikrowellenmesstechnik dari profesor saya baru tersentak hati saya sebagai pendidik. Sang Profesor yang datang 15 menit sebelum kuliah berlangsung dan bersendau gurau dengan mahasiswa layaknya seorang teman ternyata memiliki segudang ilmu yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh saya.

Sang profesor menerangkan tentang sejarah elektromagnetik dari Maxwell sampai experimen yang dilakukan Hertz sebagai pendahulunya. Hertz memang semasa hidupnya mengajar di universitas tempat saya belajar dan dalam bidang yang sama dengan bidang profesor saya saat ini. Hertz sangat tenar dengan percobaannya yang membuktikan keberadaan gelombang elektromagnetik. Kita sekarang tak bisa lepas dari karya fenomenal tersebut. Professor memberikan daftar buku dan bahan kuliah. Bahan berupa buku dan artikel pada jurnal maupun konferens berasal dari sang profesor tersebut. Minggu-minggu kuliah berikutnya terasa sangat menarik karena sang profesor memberikan contoh-contoh dari penelitian-penelitian dan projek yang beliau kerjakan. Tidak jarang profesor membawa komponen-komponen alat bagian dari teknologi yang telah beliau kembangkan. Sang profesor memang sangat berpengalaman di bidnag tersebut.

Sejenak pikiran saya melayang saat saya kuliah, jarang dosen saya menerangkan dengan penelitian-penelitian fenomenal yang telah beliau lakukan. Rasa bersalah itupun menjalar pada diri saya teringat pada saat saya mengajar, hanya beberapa penelitian kecil yang saya gunakan sebagai contoh pada saat saya mengajar. Pikiranpun tertuju, apa yang salah pada sistem pendidikan di universitas tempat saya kuliah dahulu maupun di universitas tempat saya bekerja. Ada beberapa kelemahan yang saya amati sehingga kondisi ideal kuliah tidak tercapai. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjamin kuliatas perkuliahan.

1. Dosen seharusnya hanya mengampu 2-3 matakuliah yang tetap sepanjang hayatnya. Perubahan bukan pada matakuliah tapi isi yang menyesuaikan perkembangan jaman. Hal yang sering terjadi adalah jurusan sering mengubah matakuliah yang diampu seorang dosen, atau seorang dosen bagaikan pakar yang serba bisa dengan mengajar lebih dari 3 matakuliah. Disamping itu beban kuliah biasanya sangat banyak apalagi di universitas yang menyelenggarakan berbagai macam program tanpa melihat ketersediaan sumber daya pengajar. Akhirnya tenaga sang dosen habis buat mengajar tanpa sempat meneliti.

2. Penelitian adalah sumber belajar dosen. idealnya dosen mendapatkan pengetahuan dari penelitian yang dilakukannya. Untuk hal ini saya berpendapat penelitian tidak harus mengikuti tren penelitian di luar negeri karena memang secara fasilitas kita kalah. Penelitian lebih diarahkan untuk mengatasi masalah lokal maupun nasional.

3. Ciri khas yang unik antar universitas. Idealnya universitas-universitas mempunyai karakteristik keunggulan masing-masing bukan berduyun duyun mengikuti tren yang sama.

4. Optimasi hubungan dosen-mahasiwa dalam penelitian. Jalinan kerjasama harus ditingkatkan secara kuliatas dengan mengaktifkan peran mahasiwa dalam penelitian. Sudah menjadi hal wajar di luar negeri bahwa mahasiswa mengerjakan tugas penelitian yang merupakan proyek penelitian sang dosen. Untuk hal sekarang sudah banyak dosen yang melaksanakannya walaupun belum semuanya. Hal yang perlu ditingkatkan adalah dalam segi kualitas.

5. Peningkatan publikasi ilmiah. Publikasi ini dapat ditingkatkan seandainya suatu penelitian utama dipecah menjadi beberapa bagian yang dikerjakan oleh mahasiwa dan disatukan kembali dalam sebuah artikel ilmiah.

Penelitian memang sangat penting sekali bagi seorang pengajar di perguruan tinggi. DP2M Dikti telah lama berusaha untuk memajukan penelitian dengan memberikan dana yang didapatkan secara kompetisi. Diharapkan dengan beberapa triger dari lembaga seperti DP2M dan Ristek, penelitian dosen akan berkembang semakin maju. Pembinaan terhadap dosen-dosen muda untuk menghasilkan karya penelitian yang bermutu perlu digalakkan.

Hal yang saya soroti adalah perlunya pembentukan grup-grup riset sesuai dengan keahliannya di tingkat jurusan. Tim tersebut bisa terdiri dari 2-4 dosen yang mempunyai keahlian berbeda-beda dalam bidang yang masih terkait. Selain itu dibutuhkan tenaga pendukung seperti teknisi dan administrasi. Pengelolaan secara profesional akan membantu menyuburkan grup-grup tersebut.

Sekali lagi ngomong memang mudah tapi pelaksanaannya memang butuh perjuangan. Semoga hari esok lebih baik.

Ditulis oleh:
Dhidik Prastiyanto

Written by dhidikp

May 4, 2009 at 8:46 pm

Posted in Opinion

Tagged with ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tulisan menarik. Apa yang pak Dhidik tulis disini benar, meskipun kalau saya lihat relatif merupakan simplifikasi dari setumpuk “neraka” masalah di perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, semuanya harus dimulai dari level sistem pendidikan nasional. Masalah kepangkatan dosen, masalah pendirian perguruan tinggi, dan seterusnya. Yang pak Dhidik tulis itu adalah turunan dari masalah utama.

    Masalah lainnya adalah perguruan tinggi tidak mempunyai dosen yang “cukup cerdas” sehingga bisa menyusun kurikulum dengan baik. Silahkan lihat rata-rata kurikulum di berbagai perguruan tinggi. Tumpang tindih nggak karuan. Akibatnya fluktuasi perubahan kurikulum sering terjadi.

    Ini masih belum melihat ke hal-hal lain. Bagaimanakah beratnya neraka administrasi karena mengurus jabatan fungsional dosen? Belum nanti masih harus mengurus sertifikasi dosen. Di PT yang relatif kecil, hal ini harus diurus end-to-end.

    Disisi lain masih juga harus mengurus mahasiswa2 nggak jelas, “ancaman-ancaman”, politik kantor, gaji dan penghargaan rendah, dll. Hidup di PT Negeri mungkin lebih enak ya, kalau PTS kadang masih harus jadi Salesman/girl, dan sejenisnya.

    Mau yang lebih parah lagi? (kebanyakan) manusia Indonesia adalah manusia yang sombong. Satu orang yang sangat terbatas kemampuannya dituntut mengerjakan banyak hal. Ronda, Arisan, Kerja Bakti, dan sejenisnya.😀

    Saya yakin kalau kondisi memungkinkan orang (dosen) Indonesia bisa konsen ke riset, kita nggak akan kalah dengan Jerman. Kuncinya, orang Indonesia harus sadar bahwa kita itu orang yang sangat terbatas kemampuannya sehingga jangan dibebani dengan banyak hal. Sombong amat.😀

    Saya memang iri dengan budaya dan pola pikir orang-orang Jerman, Jepang, dan negara2 lain yang benar-benar menghargai ketidakmampuan manusia.🙂

    • Benar sekali yang Pak Bambang tuliskan, ini memang cuma saya tinjau dari satu sisi.. Benar sekali bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.
      Di Jerman para dosen sudah tidak disibukkan dengan urusan perut dan urusan2 yg Pak Bambang sebutkan. Saya sendiri disini mengurusi hal yang sangat sempit.
      Saya akan tulis tentang tim riset saya. Benar sekali Pak bahwa harus dimulai dari sistem pendidikan nasional. Akan tetapi upaya2 kecil kita sebagai dosen tentunya dapat mengubah keadaan minimal dilingkungan tempat kita mengabdi. Btw di tunggu fans di facebook tuh Pak🙂

      dhidikp

      May 5, 2009 at 9:36 am

      • Nah pengalaman riset pak Dhidik di Jerman akan sangat berguna untuk ditulis disini. Ya meskipun saya berada pada “ruang” yang lain dengan pak Dhidik, saya yakin pasti ada pelajaran yang bisa diambil.

        Eh tentang facebook, saya memang nggak disana lagi. Barangkali cuman saya acc aja nanti kalau ada requests friend. Saya cukup kecewa juga dengan kultur berbagi ilmu yang nyaris tidak ada di Facebook. Hanya sebagai media gosip dan media untuk membentuk citra (yang lain dengan kondisi nyata). Lebih parah lagi, notes yang saya tulis disitu tidak bisa diakses dari non-anggota facebook. Meskipun secara bisnis bisa saya pahami, tapi tidak sesuai dengan visi saya. Buat apa nulis kalau nggak memberi wawasan ke orang lain.

        Knowledge should be free, in the sense of free speech, not free beer🙂

      • Iya Pak nanti saya tuliskan disini, tentunya yang sy tulis adalah diluar isi riset saya. Karena isi riset adalah milik perusahaan riset tempat saya bekerja. Pengalaman di luar isi riset ini justru yang dibutuhkan oleh sebagian teman-teman kita di Indonesia.

        Mengenai facebook saya memandang dengan cara lain Pak. Benar sekali bahwa di facebook yang laris adalah gosip dsb, tapi kita bisa memakai facebook untuk iklan tulisan kita. Contohnya saya tidak pernah menulis catatan di facebook, saya menuliskan catatan untuk berbagi pengalaman di blog ini. Saya gunakan facebook untuk “mengiklankan” blog saya. Ada beberapa yang membuka setiap kali saya iklankan. Ada kepuasan tersendiri saat tulisan kita dibaca dan terlebih lagi memberi manfaat bagi orang lain.

        Dengan facebook juga dapat kita dskusikan suatu wacana yang kita lontarkan lewat status, mungkin mereka tidak berkomentar tapi setidaknya tulisan status kita dibaca dan memberikan pengaruh tersendiri.

        Mohon kembali lagi Pak, sudah pada rindu Pak Bambang, visi dan misi bisa diperjuangankan dengan cara2 yang menyesuaikan selara orang tapi tetap mengena.

        Sekali lagi itu hanya pendapat saya, Pak Bambang tentunya lebih paham.

        dhidikp

        May 5, 2009 at 10:55 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: