Mari Berbagi walaupun hanya sekedar Informasi

Berbagi informasi tentang segala hal positif

S3, Kuliah atau Kerja?

with 4 comments

Pola pendidikan S3 menganut dua aliran yaitu mengacu pada Amerika atau Eropa. Sistem yang dianut Amerika biasanya sekolah S3 didahului dengan mengambil mata kuliah satu atau dua semester. Setelah kuliah selesai baru mahasiswa memulai penelitiannya. Walaupun tidak menutup kemungkinan, mahasiswa secara informal memulai penelitiannya sambil menyelesaikan mata kuliah. Yang saya tahu menganut sistem ini adalah Indonesia, Arab saudi dan mungkin beberapa negara lainnya.

Banyak negara yang menganut sistem eropa untuk pendidikan S3nya yaitu mahasiswa s3 langsung memulai aktivitas penelitian tanpa didahului kuliah. Memang tidak menutup kemungkinan mahasiswa disarankan untuk mengambil satu atau dua mata kuliah sebagai penunjang. Hal tersebut yang saya alami di Jerman. Di Jerman biasanya mahasiswa langsung terjun dalam penelitiannya. Mahasiswa S3 atau Doktorand biasanya disebut pekerja karena memang sehari-hari harus bekerja di Insitutnya masing masing. Uniknya di Jerman, seorang mahasiswa S3 tidak harus bekerja di Universitas untuk menempuh program S3nya. Mereka bisa memilih antara bekerja di Universitas, Pusat Riset atau sebagai Doktorand di Industri. Perusahaan seperti BMW, Mercedes, Rohde & Schwarz dan berbagai perusahaan lainnya sering menawarkan posisi doktorand. Saya sendiri bekerja sebagai doktorand di pusat riset.

Waktu pertama kali datang di Insitut, saya menanyakan apakah saya perlu mendaftar ke Universitas atau tidak. Teman-teman doktorand di Institut saya bilang tidak perlu mendaftar di Universitas sebagai student. Mereka bilang “buat apa daftar jadi student, hanya buang-buang uang untuk bayar SPP saja!”. Padahal SPPnya sangat murah sekali dibandingkan dengan SPP S3 di Indonesia apalagi dibandingkan negara-negara Anglo saxon. Mereka memang bekerja di Insitut tersebut dan setelah selesai akan diuji oleh profesor dari universitas yang bekerjasama dengan pusat riset tersebut. Saya tetap mendaftar sebagai mahasiswa karena pemberi beasiswa untuk studi saya mengharuskan saya terdaftar di Universitas. Mereka akan bingung atau mungkin menyangka saya tidak studi S3 kalo tidak terdaftar di sebuah Universitas.

Doktorand di Jerman seperti layaknya pekerja lainnya, kewajiban sehari-harinya pergi ke kantor atau laboratoriumnya untuk menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Doktorand di sebuah universitas biasanya selain meneliti juga dibebani pekerjaan akademik seperti membantu memberikan tutorial kepada mahasiswa s1 atau s2. Doktorand di pusat riset umumnya hanya bekerja meneliti saja. Akan tetapi karena pusat riset banyak mendapat pekerjaan dari dunia Industri, Doktorand juga sering disibukkan dengan pekerjaan yg berhubungan dengan kerjasama industri tersebut. Seperti yang saya alami juga demikian. Hampir setiap bulan ada saja order dari perusahaan untuk mengkarakterisasi material yang harus saya kerjakan. Kebetulan penelitian saya adalah dalam bidang karakterisasi material. Alat dan metode yang saya kembangkan memang untuk mendukung kerjasama dengan industri-industri tersebut. Saya terkadang berpikir bahwa waktu saya lebih banyak terpakai untuk menyelesaikan berbagai order industri daripada mengerjakan disertasi saya.

Memang lebih banyak pengalaman yang saya dapatkan, dan pengalaman tersebut benar-benar pengalaman aplikasi ilmu di bidang Industri. Hal ini kadang akan membuat kita terlena sehingga persoalan menulis paper atau menulis disertasi menjadi keteteran. Memang hasil-hasil karakterisasi material tersebut bisa saya pakai dalam artikel2 ilmiah yang ingin saya publikasi. Akan tetapi tentunya saya membutuhkan jam ekstra untuk mengkaji secara teoritis tentang eksperimen tersebut sehingga layak dipublikasikan dalam suatu Jurnal. Terkadang baru saja ada waktu senggang dua hari untuk menulis paper atau disertasi, datang lagi orderan dari industri. Saya akhirnya maklum kenapa Senior saya hanya punya dua paper di conference sampai dia meraih gelar Dr Ingnya. Dia banyak sekali pekerjaan yg berhubungan dengan aplikasi Industri. Alat yang dia kembangkan juga telah diproduksi oleh industri tersebut. Sudah satu setengah tahun saya terlena dengan eksperimen-eksperimen laboratorium tersebut. Saya berjanji menyisihkan waktu untuk mendalami teori dan menulis di Jurnal. Saya selama ini bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Itupun saya masih merasa waktunya kurang karena begitu banyak yang harus saya kerjakan dan pelajari. Sayangnya di Jerman tidak ada budaya menginap di Laboratorium seperti di Indonesia. Kalau ada mungkin saya memilih membawa sleeping bag ke ruang kerja saya untuk dapat menyelesaikan S3 saya selama 3 tahun. Semoga Allah SWT selalu memberi kekuatan dan kemudahan bagi saya. Amien

Salam
Dhidik Prastiyanto

Written by dhidikp

March 11, 2010 at 10:06 pm

Posted in daily life

Tagged with ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Assalamu alaikum wr.wb.
    pa saya seorang dosen mau banget sekolah S3 diLN, tp sampai sekarang saya belum dapat topik untuk penelitian saya, waktu S2 saya meneliti ttng vortex, saya sangat bingung untuk pembuatan proposal S3, mau lanjutin ttng vortex tp bingung pengembangan spt apa. semangat saya tinggi pa tapi saya sadari dasar ilmu saya kurang. sekedar info background saya dari D3. mohon bantuannya. tks.

    sri suwasti

    April 12, 2010 at 1:53 am

  2. wah-wah…, gitu tho, dulu kan proposal risetnya kalo ndak salah ttg microwave tho Dhik?.

    Wadduh, kok dipekerjakan yo, tp emank byk manfaatnya, cuma jangan sampai terlena.

    Btw banyak orderan job, nambah income ndak nih?🙂

    May

    June 1, 2010 at 12:45 am

  3. loh..nek gak ndaftar Universitas, trus piye kok iso dapat gelar dari Universitas?

    2 conference wis cukup to nggo lulus?
    nek ning Jepang 2 conference iso cepet kuwi, opo menh nek waton conference🙂

    ning Jepang lab. bebas, arep turu lab., adus ning lab. masak ning Lab. yo oleh
    tak kiro Jerman santai je koyo ing eropa lain po Ostrali, ternyata yo kerjo 12 jam to, koyo ning Jepang🙂

    Mas Tato

    April 26, 2011 at 10:17 pm

    • wah aku ning Prancis kerjo ning labo uni dan industri. Aku kerjo 12 jam sehari, sabtu minggu ning omah yo kerjo. Ning Perancis untuk doktoral minimal satu publikasi journal internasional cukup…

      Adhi

      April 10, 2012 at 7:53 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: