Mari Berbagi walaupun hanya sekedar Informasi

Berbagi informasi tentang segala hal positif

Archive for the ‘daily life’ Category

Dosen Pembimbing

with 7 comments

Sudah 2 Tahun aku meninggalkan kampus dan para mahasiswa untuk meneruskan studi S3ku di Jerman. Saat sedang aktif menjadi dosen seringkali tidak sadar betapa penting peran pembimbing dalam skripsi. Saat berperan lagi jadi mahasiswa baru terasa arti penting seorang pembimbing. Kebetulan pembimbing utamaku seorang yang sangat baik, tapi sebagai direktur institut beliau menugaskan pembimbing kedua sebagai pembimbing langsung yang bertanggung jawab atas disertasiku. Peran pembimbing kedua yang memonitor pekerjaan kita sehari-hari ini sangat vital.

Selama dua tahun aku mendapatkan pembimbing kedua yang kurang memberi dukungan pada mahasiswanya. Aku sendiri adalah mahasiswa yang cukup aktif karena sadar bahwa beasiswaku cuma 3 tahun. Setiap dua minggu sekali aku memberikan laporan pada pembimbingku ini, tapi tidak ada feedback yang aku dapatkan. Walaupun aku sudah membimbing ratusan mahasiswa untuk lulus S1 tapi ternyata bekerja sendiri tanpa umpan balik dari pembimbing adalah hal yang sulit. Untung saja aku memanfaatkan waktu selama dua tahun tersebut dengan mempelajari state of the art pada bidang penelitianku, mencoba memahaminya dan mencobanya dengan membuat beberapa perangkat lunak maupun experimen. Walaupun tanpa arahan, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya aku bekerja keras di bidang ini dan suatu saat akan bermanfaat.

Saat dua tahun genap aku menempuh studi S3, pembimbing langsungku mengundurkan diri dari universitas tempatku belajar. Situasi seperti ini sering membuat mahasiswa S3 stress dan bingung apa yang akan dilakukan. Antara tetap kuliah ditempat itu atau mengikuti pembimbing langsungnya pindah. Selama seminggu aku bingung apa yang harus aku lakukan. Setelah aku pikirkan bahwa tidak banyak yang aku dapatkan dari pembimbing langsungku maka aku putuskan untuk tetap di institutku. Mengikuti pembimbing yang kurang mensupport mahasiwanya adalah opsi yang tidak tepat.

Setelah kehilangan pembimbing langsung yang seharusnya merupakan musibah, ternyata hal ini adalah hal yang lebih baek untukku. Aku mendapatkan pembimbing pengganti yang sangat baik dan sangat peduli pada mahasiswanya. Beliau minimal seminggu sekali menanyakan progres pekerjaanku, bahkan seringnya hampir tiap hari beliau menanyakan. Orangnya baek, apa adanya, dan senang bercanda. Aku merasakan seperti ngobrol dengan teman sendiri jadi bisa mengutarakan semua pekerjaanku termasuk kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, pembimbingku ini tiap hari naek sepeda pulang balik ke kantar yang jaraknya 15 km. Seorang ketua grup yang sederhana dan peduli dengan anak buahnya. Pembimbingku saat mempunyai waktu luang, ikut mengukur di lab denganku. Kebutuhan alat, atau bahan penelitian, konferens, tanpa dimintapun beliau malah menawarkan. Setelah dua tahun studi S3 akhirnya baru mendapatkan pembimbing yang ideal.

Pembimbingku saat membalas ucapan selamat tahun baru 2011 yang aku kirimkan, sambil bercanda menjawab saatnya sekarang aku untuk sprint untuk meraih gelar doktorku. September tahun ini beasiswaku habis, dan aku akan berusaha maksimal untuk lulus tepat waktu. Tidak ada lagi kata seandainya dari awal aku dapat pembimbing beliau, yang ada adalah memanfaatkan waktu tersisa sembilan bulan ini. Berangkat jam 8 pagi pulang jam 8 malam terasa masih kurang. Aku bilang pada pembimbingku, bolehkan aku bekerja sampai larut malam dan tidur sejam dua jam di lab untuk menyelesaikan kerjaanku. Beliau bilang secara ofisial sebenarnya tidak boleh, tapi silahkan saja kalau memang diperlukan. Moga-moga saja saat aku kembali mengajar nanti, aku dapat mencontoh kepedulian dan kebaikan pembimbingku.

Written by dhidikp

January 13, 2011 at 6:24 pm

Posted in daily life

S3, Kuliah atau Kerja?

with 4 comments

Pola pendidikan S3 menganut dua aliran yaitu mengacu pada Amerika atau Eropa. Sistem yang dianut Amerika biasanya sekolah S3 didahului dengan mengambil mata kuliah satu atau dua semester. Setelah kuliah selesai baru mahasiswa memulai penelitiannya. Walaupun tidak menutup kemungkinan, mahasiswa secara informal memulai penelitiannya sambil menyelesaikan mata kuliah. Yang saya tahu menganut sistem ini adalah Indonesia, Arab saudi dan mungkin beberapa negara lainnya.

Banyak negara yang menganut sistem eropa untuk pendidikan S3nya yaitu mahasiswa s3 langsung memulai aktivitas penelitian tanpa didahului kuliah. Memang tidak menutup kemungkinan mahasiswa disarankan untuk mengambil satu atau dua mata kuliah sebagai penunjang. Hal tersebut yang saya alami di Jerman. Di Jerman biasanya mahasiswa langsung terjun dalam penelitiannya. Mahasiswa S3 atau Doktorand biasanya disebut pekerja karena memang sehari-hari harus bekerja di Insitutnya masing masing. Uniknya di Jerman, seorang mahasiswa S3 tidak harus bekerja di Universitas untuk menempuh program S3nya. Mereka bisa memilih antara bekerja di Universitas, Pusat Riset atau sebagai Doktorand di Industri. Perusahaan seperti BMW, Mercedes, Rohde & Schwarz dan berbagai perusahaan lainnya sering menawarkan posisi doktorand. Saya sendiri bekerja sebagai doktorand di pusat riset.

Waktu pertama kali datang di Insitut, saya menanyakan apakah saya perlu mendaftar ke Universitas atau tidak. Teman-teman doktorand di Institut saya bilang tidak perlu mendaftar di Universitas sebagai student. Mereka bilang “buat apa daftar jadi student, hanya buang-buang uang untuk bayar SPP saja!”. Padahal SPPnya sangat murah sekali dibandingkan dengan SPP S3 di Indonesia apalagi dibandingkan negara-negara Anglo saxon. Mereka memang bekerja di Insitut tersebut dan setelah selesai akan diuji oleh profesor dari universitas yang bekerjasama dengan pusat riset tersebut. Saya tetap mendaftar sebagai mahasiswa karena pemberi beasiswa untuk studi saya mengharuskan saya terdaftar di Universitas. Mereka akan bingung atau mungkin menyangka saya tidak studi S3 kalo tidak terdaftar di sebuah Universitas.

Doktorand di Jerman seperti layaknya pekerja lainnya, kewajiban sehari-harinya pergi ke kantor atau laboratoriumnya untuk menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Doktorand di sebuah universitas biasanya selain meneliti juga dibebani pekerjaan akademik seperti membantu memberikan tutorial kepada mahasiswa s1 atau s2. Doktorand di pusat riset umumnya hanya bekerja meneliti saja. Akan tetapi karena pusat riset banyak mendapat pekerjaan dari dunia Industri, Doktorand juga sering disibukkan dengan pekerjaan yg berhubungan dengan kerjasama industri tersebut. Seperti yang saya alami juga demikian. Hampir setiap bulan ada saja order dari perusahaan untuk mengkarakterisasi material yang harus saya kerjakan. Kebetulan penelitian saya adalah dalam bidang karakterisasi material. Alat dan metode yang saya kembangkan memang untuk mendukung kerjasama dengan industri-industri tersebut. Saya terkadang berpikir bahwa waktu saya lebih banyak terpakai untuk menyelesaikan berbagai order industri daripada mengerjakan disertasi saya.

Memang lebih banyak pengalaman yang saya dapatkan, dan pengalaman tersebut benar-benar pengalaman aplikasi ilmu di bidang Industri. Hal ini kadang akan membuat kita terlena sehingga persoalan menulis paper atau menulis disertasi menjadi keteteran. Memang hasil-hasil karakterisasi material tersebut bisa saya pakai dalam artikel2 ilmiah yang ingin saya publikasi. Akan tetapi tentunya saya membutuhkan jam ekstra untuk mengkaji secara teoritis tentang eksperimen tersebut sehingga layak dipublikasikan dalam suatu Jurnal. Terkadang baru saja ada waktu senggang dua hari untuk menulis paper atau disertasi, datang lagi orderan dari industri. Saya akhirnya maklum kenapa Senior saya hanya punya dua paper di conference sampai dia meraih gelar Dr Ingnya. Dia banyak sekali pekerjaan yg berhubungan dengan aplikasi Industri. Alat yang dia kembangkan juga telah diproduksi oleh industri tersebut. Sudah satu setengah tahun saya terlena dengan eksperimen-eksperimen laboratorium tersebut. Saya berjanji menyisihkan waktu untuk mendalami teori dan menulis di Jurnal. Saya selama ini bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Itupun saya masih merasa waktunya kurang karena begitu banyak yang harus saya kerjakan dan pelajari. Sayangnya di Jerman tidak ada budaya menginap di Laboratorium seperti di Indonesia. Kalau ada mungkin saya memilih membawa sleeping bag ke ruang kerja saya untuk dapat menyelesaikan S3 saya selama 3 tahun. Semoga Allah SWT selalu memberi kekuatan dan kemudahan bagi saya. Amien

Salam
Dhidik Prastiyanto

Written by dhidikp

March 11, 2010 at 10:06 pm

Posted in daily life

Tagged with ,

Ramalan Cuaca

leave a comment »

Saat berada di Indonesia, salah satu acara televisi yang paling tidak aku percayai adalah ramalan cuaca. Sudah Sudah lama aku tidak menonton lagi ramalan cuaca di televisi. Aku tidak tahu lagi apakah acara itu masih ada atau tidak. Gaya pembawa ramalan cuaca yang menyakinkan tak merubah pendirianku untuk melirik acara ini. Mungkin karena banyak daerah di Indonesia cuacanya jarang berubah, selalu cerah waktu kemarau dan hujan hanya saat musim penghujan saja membuat acara ramalan cuaca terasa semakin menjemukan.

Temenku pernah mengatakan kalo di jerman gak ada cuaca yang buruk, yang buruk adalah pakaian. Aku kena batunya juga membawa kebiasaan tidak menegok ramalan cuaca atau cuek dengan ramalan cuaca. Kejadiannya pada saat musim semi. Setelah berhari-hari cerah, suhu udara mulai hangat dan tidak ada tanda-tanda untuk hujan sekilas aku liat ramalan cuaca di sini. Aku liat siang nantisuhu udara turun drastis akan hujan, aku nggak percaya pada ramalan cuaca tersebut. Strassenbanhn yang aku tumpangi menuju ke tempat kerjaku 3 menit lagi berangkat, dengan cepat aku menyambar tas mengunci pintu dan bergegas lari ke halte karena hari ini ada acara seminar mingguan di institutku.

Aku hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans saja berangkat ke institut. Pada saat membuka pintu apartemen ternyata.. .berr, dingin oei. Mau balik ke atas tidak ada waktu lagi ya sudah nekat saja. Kesialanku tidak hanya itu saja ternyata saat makan siang bareng2 dengan teman-teman semua sudah siap dengan jaket lengkap dengan membawa payung. Siang itu ternyata benar kata ramalan cuaca, hujan dan dingin. Aku keliatan seperti orang aneh sendiri. Sebagai orang asing apalagi berasal dari daerah tropis, hanya memakai kaos oblong dan jaket, sementara teman-teman jerman menggunakan jaket. Itulah akibatnya tidak mempersiapkan diri seperti kata pepatah sedia jaket sebelum dingin hehe.

Pengalaman tak terlupakan yang memberi nasehat untuk melihat ramalan cuaca setiap hari. Membahas tentang ramalan cuaca, di negara maju memang sudah sangat bagus layanannya. Dua buah website yang sering aku gunakan untuk melihat ramalan cuaca di kota karlsruhe adalah wetteronline dan wetter rtl. Website tersebut menyediakan layanan gratis untuk ramalan cuaca 6 hari kedepan. Tingkat akurasi memang lebih bagus untuk cuaca hari ini atau cuaca esok hari. Dengan mengetikkan nama kota maka akan tertampil dengan cepat ramalan cuaca tersebut. Untuk yang berlangganan disediakan ramalan cuaca 14 hari kedepan.

Pengelola ramalan cuaca tersebut mendapatkan penghasilan dari iklan yang dipasang pada website tersebut dan dari pelanggan berlangganan. Ramalan cuaca memang sangat penting sebagai pendukung industri pariwisata, transportasi khususnya transportasi melalui laut dan udara. Pengembangan riset di bidang ini ternyata sangat dibutuhkan misalnya untuk menentukan arah angin dan kecepatannya, tinggi gelombang laut dan hal-hal lain yang penting.

Ternyata acara ramalan cuaca yang dulu sangat membosankan bagiku sekarang setiap hari aku memanfaatkannya.

Written by dhidikp

May 29, 2009 at 9:36 pm

Posted in daily life

Tagged with , ,

Musim Semi tak Mampu Menghangatkan Hatiku

with one comment

Hari-hari kelabu musim dingin telah berlalu. Selamat tinggal musim dingin yang meryebalkan. Musim dingin di Karlsruhe tahun ini mencapai puncaknya -17 derajat celcius sehingga membuat warganya menghindari aktivitas di luar ruangan.Setelah lebih dari 4 bulan kedinginan, kini suhu udara mulai merangkak naek dan musim semipun telah tiba. Bunga-bunga bermekaran seirama dengan keceriaan hati penduduk kota kecil tempatku belajar.

Orang-orang lalu lalang di pusat kota Karlsruhe, mata-mata berbinar menikmati hangatnya sinar matahari di musim semi. Warung ice cream diserbu pengunjung yang sudah rindu menikmatinya. Mereka bercengkrama, bersendau gurau dalam kebahagian menyambut kehangatan suhu yang selama berbulan-bulan lenyap ditelan musim dingin. Hal yang semula aku anggap aneh karena di kampung halamanku aku tidak pernah melihat orang yang begitu senangnya menikmati kehangatan matahari.

Hal yang aku perhatikan adalah terjadi perubahan pada perilaku, cara berpakaian dan gaya hidup orang pada setiap musim. Musim semi orang seperti terbebas dari penjara. Berseri-seri wajahnya dan memadati restoran yang sengaja menyajikan makanan dibawah terik matahari.

Sesuatu yang terlintas dalam benakku adalah, mungkinkah variasi kehidupan yang lebih dinamis karena pengaruh musim ini membuat negara dengan empat musim lebih maju daripada negara dengan 2 musim. Orang-orang disini terbiasa dengan perubahan sehingga dapat memacu kreativitasnya. Ini hanya dugaanku saja. Aku bukan seorang peneliti sosial yang berambisi membuktikan dugaanku.

Cuaca yang cerah akhir pekan ini tetap saja tak mampu mengisi hatiku yang sepi. Aku rindu sekali dengan keceriaan dan canda tawa anakku tercinta. Ave anakku tersayang sangat senang jalan-jalan di akhir pekan menikmati indahnya kota jogja. Mulutnya tidak berhenti bercerita tentang mainannya dan menanyakan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Aku rindu mencium pipinya yang seperti bakpao, aku rindu menggendongnya meskipun punggung terasa pegal karena tubuhnya yang besar. Suaranya lewat telepon tidak juga mengobati rinduku. Sungguh lama waktu berjalan ketika kuingat anak dan istriku tercinta nun jauh disana.

Hari ini tepat setengah tahun aku mengembara mencari ilmu yang aku impikan. Menyusuri lorong berliku dalam kesendirian dan kesunyian hati yang sepi. Memang benar ajaran agamaku yang menganjurkan keluarga untuk senantiasa bersama. Dalam candaku dengan teman-teman akrabku di Karlsruhe, sebenarnya dalam hati terdalam aku selalu mengingat buah hati dan belahan jiwaku.

Hari ini mamiku tercinta terbang menunaikan umroh di tanah suci. Tak terasa menetes air mataku mendoakan mami dapat menjalankan ibadah dengan lancar. Aku mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Moga Allah SWT menguatkan fisiknya untuk menjalankan ibadah. Aku titip doa pada mamiku agar kami sekeluarga cepat dapat berkumpul kembali.

Hidup memang penuh perjuangan, moga-moga aku diberi kekuatan untuk menjalankan amanah untuk menuntut ilmu.

Written by dhidikp

April 5, 2009 at 8:53 pm

Tiana Farewell Party

leave a comment »

4 March 2009, there was something different in my apartment kitchen. Many people cooked together. We usually do not cook in the same time. We would have a party because My Friend, Tiana Mola would go to Madagaskar after finishing his research at FZK.

Each person cooked different food. They want to promote the food from their country. I cooked fried rice mixed with shrimp, vegetables and fish. I never cook anything when i was in my country because my wife cooks everything for me. I said to my friends that i am not able to cook anything so that i do not guarantee the taste of the fried rice. In Germany, I always cook instant food such as instant vegetables, instant fish etc.
Tiana cook spagetti mixed with meet. Juanli cooked original noodle from china. Chi Jung had extra spicy meats with eggs. We also invited carolina from brazil but Tiana just invited Carolina on Thursday night so she did not have any time to prepare her cooking.

eventually, we had dinner together at 8.30 pm. There were a lot of food as mentioned above and drink such as, apple, orange, mango juice and bier. I do not drink any alcohol so they asked me first that they want to drink alcohol. I let them drink alcohol but i only drink juice.

First, I taste the original noodle from china which is made by Juan li…wow, it is my first time to taste a strange food from china…the taste like “out of date noodle” :)…sorry Juan li..It is very hard to eat all of the “out of date noodle” ….Finally i gave up…

Carolina eat the spicy meat first, and she shouted woow.. ups she ate the chilly so that she call the food as the devil meet :)…sorry for Chi Jung…The meat is really delicious, but do not try to eat the chilly. It is very spicy.

They try my fried rice which is same with food from Spain (said Carolina). They said that the food is delicious. Frank said that the fried rice is too spicy for him. I bought seasoning sachet from Asialand supermarket.

I tried to eat tiana spaghetti and said to tiana ” I see you cook this food everyday, however i never taste your food until now hehe..while we were eating, we talked about many things. Every person talk about his own country and culture. Finally we talked about religion. some of my friends do not believe in god. It is my first time meet a person who does not believe in god. Frank said that god never comes when needed :(. We tolerate each other so that the discussion goes warmly. Such as Qur’an state that we do not have to force our religion to anyone.

We took some pictures to remember that we have lived together. Goodbye my friend, Tiana, wish you success in your study and career. Give me the news if you become the president of Madagaskar 🙂

Written by dhidikp

March 9, 2009 at 11:13 pm

Posted in daily life

Tagged with ,

Perbedaan Budaya

with 3 comments

Empat bulan sudah saya bekerja untuk meraih gelar doktor di jerman. Banyak sekali perbedaan budaya yang saya rasakan sebagai pengalaman yang baru. saya mencoba untuk menulisnya agar pengalaman dan kenangan itu tak terlupakan. Sering kali terpikir, kenapa Jerman begitu maju sedangkan indonesia tertatih-tatih. Apa karena otak kami memang lebih kecil dibandingkan mereka. Mereka secara postur lebih besar mungkin otaknya juga lebih besar:). Mungkin terlalu naif untuk mengaitkan volume otak karena buktinya banyak anak-anak pinter dari Indonesia memenangkan olimpiade bidang sains. Akan tetapi mungkinkah semua anak-anak cerdas itu akan menjadi seorang leader di bidnagnya dengan ide-ide kreatif yang bermanfaat. Perilaku dan sikap mental sebagai akibat dari gabungan pendidikan formal dan tempaan budaya tempat si anak menjalani kehidupan akan menentukan keberhasilan anak tersebut.

Mungkin sedikit catatan singkat
Saya melihat perbedaan budaya barat dengan budaya indonesia pada umumnya. Sopir bus saja disini sangat disiplin, apalagi lainnya. Sopir disini kalo kuning akan bereaksi menginjak rem untuk mengurangi laju kecepatan mobilnya. Perbedaan mencolok dengan kita yang mengartikan lampu kuning sebagai pertanda menginjak gas kuat-kuat. Pernah suatu kali saya melihat sopir trem akan menelpon bagian koordinatornya kalo ada rambu yang tidak yakin bener apa salahseperti tanda merah yang lama sekali dikarenakan ada kerusakan sensor. Untuk menjalankan tremnya dia menyempatkan untuk menelpon memastikan benar tidaknya rambu itu. rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya dan keselamatan nyawa orang lain.

Di lingkungan kerja maupun sekolah juga begitu. Perbedaan budaya kerja antara Jerman dan Indonesia terlihat
Orang sini jarang sekali mengobrol saat kerja. Saya kebetulan seruangan dengan temen asli jerman. Kiita hanya bertegur sapa pas datang dan pulang saja.Dalam ruangan yang mejanya berhadapan asyik masing-masing dengan aktifitasnya. Kami biasa bercerita sepuas-puasnya waktu makan maupun waktu istirahat. Yang perlu dicatat disini, orang jerman sangat fokus dengan pekerjaannya. Mereka benar-benar berkonsentrasi terhadap apa yang sedang dikerjakan. Mungkin karena kebiasaan individualis sehingga tidak peduli terhadap urusan orang lain dan tidak perlu terlaluy banyak yang dipikirkan kecuali apa yang sedang dikerjakan.

Orang sini mengisi liburan akhir pekan dengan pesta dan main-main sepuas-puasnya
hari kerja mereka benar-benar sibuk dengan aktifitasnya. Kebudayaan berpesta memang tidak perlu kita contoh. Akan tetapi efektivitas pengelolaan waktu yang disiplin mempengaruhi kualitas kerja. Jadi pada waktu hari kerja asyik dengan pekerjaanya. Pada waktu liburan saatnya bersama keluarga dan sosialisasi di masyarakat.

Kebudayaan kita juga banyak keunggulannya. Kita menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun. Sebagai contoh orang barat dengan tidak ada rasa malu mempertontonkan adegan berciuman bibir di depan umum. Mereka juga terbiasa berjemur hampir tanpa berbusana. Memang hal itu sudah menjadi budaya mereka sehingga akan menjadi hal yang wajar. Atau mungkin karena kesempatan menikmati mandi matahari hanya sekitar empat bulan saja di musim panas itupun yang benar-benar panas mungkin hanya dalam hitungan puluhan hari.
Kebudayaan dan kebiasaan memang timbul dari suatu proses yang lama dan dipengaruhi juga oleh kondisi alam sekitar.

Masih banyak lagi perbedaan budaya yang saya rasakan. Perbedaan antar budaya yang memberikan manfaat bagaimana seharusnya kita bersikap. Pengaruh antar budaya memang tidak bisa dihindari lagi dengan batasan jarak dan waktu yang sekarang semakin kabur. Kita tidak perlu mencontoh budaya barat yang kurang baik dan tidak bermanfaat. Mencontoh etos kerja dan kedisiplinan kerja mereka adalah sangat baik. Berpakaian seperti mereka karena ingin di bilang modern adalah suatu hal yang tidak tepat. Kita juga mempunyai kebudayaan sendiri yang luhur.

Semoga saja bangsa indoensia akan melangkah maju.

Written by dhidikp

February 11, 2009 at 7:35 pm